Postingan

Menampilkan postingan dengan label Cerpen

Surat Untuk Kasim 1

Bagaimana aku bisa lupa, padahal aku begitu mencintaimu. Aku berikan semuanya untukmu sedang kau tak inginkan aku lagi berada di sisimu,Kasim. Kau yang dulu melamarku kan?. Kau yang dulu aku kenalkan pada Ibu dan Ayahku bertahun-tahun silam. Kau yang merayuku dengan kata-kata cinta dan kini aku orang asing bagimu. Tutur bahasamu tak lagi sama seperti dulu saat Kau katakan kau ingin menikahiku, kini semua berbeda Kasim, Kau usir akudengan kata-katamu tak lagi mencintaiku, Kau tahu Kau yang menghancurkan hatiku, diriku bahkan keluargaku, Kau tahu Kasim?. Aku yang masih mencintaimu mengingat bagaimana dirimu meminangku, dan kini Kau robohkan hatiku yang Kau bangun bertahun-tahun diatas kepercayaan,hingga aku harus sadar kau bukan lagi orang yang menginginkanku. Aku tidak mau mengemis cinta padamu karena aku merasa cukup batinku dan ragaku kau ciderai dengan serpihan kedustaan dan pengkhianatan.Kini Kasim, surat ini menegaskan bahwa Aku tidak akan lagi berharap padamu. Mungkin inilah saat...

Cinta Di Atas Rahmat

Ah sudahlah... untuk apa aku pikirkan Dia. Dia yang lewat bibinya mengatakan tak ada lagi cinta untukku. Lama waktu bersama tak bisa mempertahankan komitmennya padaku. Laki-laki yaa begitulah dimataku. Dia yang pergi begitu saja setelah mendapatkan cintaku, mendapatkan hatiku kini pergi dengan entengnya kalau cintanya hilang. Dulu berjanji akan menikahi, dulu berjanji akan setia menemani, dulu berjanji akan terus bersama saling mengerti dan menerima, kini semua bak air bah yang melanda dan menghanyutkan rumah diatasnya. Runtuh dalam tangis dan kesakitan yang teramat dalam. Kau permainkan hatiku, kau cabik dengan taring sikapmu, kau inginkan orang lain untuk kau nikahi sedang aku disini selalu berusaha mengerti. Aiman, laki-laki yang Sarah cintai. Meremukkan hatinya. Lama terdengar bila Aiman berucap akan menikahi wanita lain yang lebih cantik dan lebih menarik dimatanya dari pada Sarah. Wanita yang begitu setia, begitu mencintainya, setia menunggunya dan menemani saat Aiman terjatuh...

Bukan Cinta Tak Retak

Bukan Cinta Tak Retak Ibu... Ibu dimana?, Imin haus bu" ringkik Imin meminta minum. Setelah tiga jam tidak sadarkan diri dan hanya berbekal nasi dalam perutnya sewaktu sahur. Jam dinding menunjukkan pukul.12.30 siang, kamarnya begitu sepi dan terlihat luas karena hanya ada satu tempat tidur dan televisi tak bisa nyala. "Ibu kemana?, apa Ibu akan meninggalkanku seperti ayah?, kenapa Ibu tidak kunjung datang, Imin haus bu, Imin lapar, Imin pingin makan, Ibu... jangan tinggalkan Imin sendiri bu, Imin takut, Imin tidak ada teman lagi bu.." tangisnya tersedu. Ibunya memang seolah hilang begitu saja, tapi Ia tidak meninggalkan Iin sendiri, Ia hanya mencari buah untuk mengganjal perutnya. Sebelum ke pasar Ia memilih unutk menunaikan shalat dhuhur dulu di Mushola rumah sakit, karena hanya disana Ia bisa menumpahkan air matanya, dibalik sujudnya, dibalik tanda kesyukuran atas nikmat Tuhan tidak mengambil anaknya begitu cepat.  “Ah, pasti Imin sudah menungguku dikamar, aku haru...
Darah merah itu mengucur dari lengan kiri Muhaimin. "Min.. Min.. Kamu kenapa?, bagaimana bisa tanganmu terluka begini?" sang Ibu kaget melihati puteranya berlumuran darah. "Aku lebih baik mati saja bu, aku lebih baik mati, biarkan aku sendiri bu, biarkan aku sendiri, pergi..!, pergi bu, aku tak butuh ibu disini, pergi..!" jawabnya memebentak. Muhaimin pingsan tak sadarkan diri karena terlalu banyak darah yang terbuang, mengucur dan memerahkan baju putihnya. "Tolong...tolooong.... Pak tolong anak saya pak, tolong bawa ke rumah sakit"."Iyaa bu, kami ambilkan motor dulu, biar lebih cepat", jawab tetangganya bergegas mengambil motor hingga para tetangga yang lain ikut berkumpul kerumah Muhaimin. Tak selang beberapa lama, Muhaimin dipapah tetangga naik motor ke rumah sakit, sedang ibunya dibonceng tetangga yang lain. Tiba di rumah sakit. "Dokter tolong anak saya dok, dia terlalu banyak mengeluarkan darah dok, tolong selamatkan nyawanya dok"...