Teruntuk masalaluku, Aku mengerti perasaanmu yang tak lagi bersamaku, bahkan aku sangat mengerti seperti apa dirimu bagiku kini, kini dan esok kau hanya serpihan yang tak akan kunjung kembali bahkan aku terus meninggalkanmu dengan berbagai alasan yang terus aku bentuk aku pernah melewatkan waktu bersamamu, menanti, memandang yang tak lepas dari pikiran hingga kau menjadi bagian indah yang terus menari didalam benakku aku yang meyakini kau adalah kenyataan yang ada, kenyataan yang menjadi sandaranku untuk terus menikmati jalan di senja hari untukmu yang pernah ada dihidupku, kini aku sendiri bukan berarti dalam sepi, ucapan terima kasihku kepadamu yang selalu aku sampaikan melalui desir angin yang terus mengajak bercengkerama kini aku melihatmu dengannya bukan aku menyesali dan bersedih atas itu, namun aku turut berbahagia untukmu dapat melanjutkan hidupmu dengan penuh ringan kebahagiaan Aku berterima kasih kepadamu karena kau hadir dan memberiku arti atas waktu yang aku lalui b...
Postingan
- Dapatkan link
- X
- Aplikasi Lainnya
ups...... ada yang merasa bersalah nih, iya, dari apa yang sering dikatakan pasti ada yang "jleb" tidak berkenan atau merasa ada yang salah gitu jika didengar orang lain. Susah nya menjaga lisan dan menjaga kata-kata baik yang keluar dari mulut, padahal kita punya pikiran yang selalu mengatur ya?, apa itu artinya kita tidak lagi menggunakan akal kita ya?, membiarkannya berkeliaran hingga ia liar dan apa yang kita lakukanpun tak lagi bisa dikendalikan. Duh sedihnya jika begitu kondisinya. dalam beberapa hal kita tak mungkin melakukan sesuatunya tanpa dipikir dan tanpa dikendalikan. Kenapa kita jarang sekali menggunakan akal untuk berpikir dalam setiap tindakan kita?. (bersambung)
- Dapatkan link
- X
- Aplikasi Lainnya
Melanjutkan judul yang sebelumnya ya.... Beberapa hari belakangan ini, kaum-kaum sorban sedang begitu akrab terdengan seperti waktu yang beriring angin yang menyejukkan. Ada beberapa nama yang entah ini karena kebetulan atau ini merupakan sebuah godaan. Sejak kegiatan tempo lalu, aku berpikir bahwa tidak mudah memang menjadi seorang yang "berbeda" dari kebanyakan orang. tetapi jika bisa memilih maka jalan kebahagiaan akhirat menjadi tujuan utama dalam sebuah perjalanan. Ada diantara mereka merupakan sosok yang alim dari awal, tetapi tidak jarang dari mereka adalah sosok "nakal" pada zamannya dan ada juga sosok-sosok akademisi, Sarjana. Seperti yang belum lama ini disuguhkan kepadaku, yang bahkan aku tak tahu siapa namanya dan hanya sekilas aku melihat wajahnya. Dialektika pria-pria bersorban. Alangkah indahnya jika sebuah ilmu dapat disandingkan haromonis dengan agama. Setiap perubahan waktu akan menghasilkan dialog ilmu tersendiri yang harus didamaikan dengan wa...
Setengah Jalan, dalam Romantisme Hidayah
- Dapatkan link
- X
- Aplikasi Lainnya
Setiap bahasa memiliki makna yang ada di dalamnya. sebagaimana bahasa pria-pria bersorban yang ditemui secara indisental. bukan persoalan sorban yang dipakai, dengan baju gamis khas pondok pesantren tetapi seberapa mampu kita bertahan dengan apa yang berbeda dari kita secara materiil. Berjalan ditengah kota, melintasi orang-orang yang ada disekelilingnya yang mungkin saja semua orang akan bergumam "aneh". tetapi mungkin gumaman itu hanya sebatas isapan jempol belaka. Ini sebuah tantangan, bagaimana melestarikan sebuah misi dakwah dalam balutan yang berbeda dari ke umuman. Pria-pria itu seperti kelompok burung yang terbang keluar sarang secara bersama-sama, saling menguatkan dan saling mengembalikan niat. paling tidak selama kami berkomunikasi dengan pria-pria itu hal yang dapat diambil hikmah adalah bagaimana menjadi muslim yang bermanfaat dan berdaya guna, nilai dan hanya ingin memperlihatkan bahwa Islam adalah bentuk kebersamaan. "Lain pintu lain pula rumahnya". ...
Pikir Malam
- Dapatkan link
- X
- Aplikasi Lainnya
Malam ini belajar dari kehidupan dan penghidupan. Tentu keduanya tak mampu dipisahkan satu dengan lainnya. Jika ada kenyang maka ada makan, jika ada makan maka ada upaya mengadakan makan dsb. Aku dibesarkan ditengah keluarga petani yang hidup dari bidang-bidang tanah dan apa yang ditanam. Tuhan, memberikan kita semua lahan dan rizky yang bertebaran di muka bumi. Maka kewajiban kita untuk mencari guna bertahan hidup. Kehidupan kita semua ada di kaki kita masing-masing, tetapi kaki kita berdiri di sebuah bangsa yang begitu beraneka ragam masyarakat nya, tingkat ekonomi, pendidikan dll. Ketika membaca sebuah kabar yang sebenarnya sudah agak lama bahwa kini kehidupan kita sedang mengalami perebutan kompetensi dalam mencari penghidupan seolah ini adalah sinyal bahwa pribumi kini bukan lagi majikan dinegeri sendiri. Outsourcing, phk, ancaman keselamatan TKI, TKW, menjadi ancaman yang meresahkan. Bahkan petani melepaskan lahan garap nya untuk memenuhi kebutuhan publik, rumah "dipindah...
Bagaimana jika Aku tak lagi bersama Islam?
- Dapatkan link
- X
- Aplikasi Lainnya
Pagi ini naik motor seperti biasanya. Aku dengan sedikit lebih pelan karena kecepatan yang tidak dapat dimungkinkan lebih cepat. Ya.... sakit itulah kenyataannya. Sakit, bukan secara fisik akan tetapi jiwa yang sakit. Jiwa yang sakit karena merasa nafsu sudah menguasai, hingga tak lagi mampu melihat nukmat Tuhan yang begitu besarnya kepadaku. Jika hari ini aku harus menangis, itu bukan karena aku yang sedang cengeng, tetapi karena aku sedang lemah. Bukankah setiap manusia memiliki titik dimana orientasinya hilang?. Bukankah setiap manusia memiliki titik dimana Ia lebih baik diam dan bertanya, kenapa dan bagaimana aku kini?. Tuhanku yang diajarkan lewat guruku memiliki banyak sifat yang mewujudkan kekuasaannya, kehendaknya dan maha besarnya. Jika manusia sepertiku menjadi tidak berdaya karena sebuah kondisi yang tidak diinginkan, apakah Aku harus tetap berdiri secara tegak?, dapatkah Aku berlindung untuk bersimpuh sebentar dan berkata bahwa aku ingin Tuhan tetap menjadi pengayomku dan ...
Karya
- Dapatkan link
- X
- Aplikasi Lainnya
Begitu relatifnya manusia, sampai-sampai Ia mampu berubah dalam waktu yang singkat. Bukan semata pertimbangannya yang cepat berubah, tetapi Ia mampu selalu menjadi sosok lain yang muncul dalam sekejap mata. kalau teori relatifitas dipegang karena kedinamisannya maka relatifnya manusia adalah kedinamisannya akal. Bukan kemunafikan, tetapi relatifitas. Menjadi sebuah karya yang baik bagi manusia saat Ia mampu mengelola akalnya dengan baik, menyesuaikannya dengan kondisi yang dilakukan oleh budi (fisik) sehingga kesesuaian inilah yang disebut karya.