Postingan

Bagaimana jika Aku tak lagi bersama Islam?

Pagi ini naik motor seperti biasanya. Aku dengan sedikit lebih pelan karena kecepatan yang tidak dapat dimungkinkan lebih cepat. Ya.... sakit itulah kenyataannya. Sakit, bukan secara fisik akan tetapi jiwa yang sakit. Jiwa yang sakit karena merasa nafsu sudah menguasai, hingga tak lagi mampu melihat nukmat Tuhan yang begitu besarnya kepadaku. Jika hari ini aku harus menangis, itu bukan karena aku yang sedang cengeng, tetapi karena aku sedang lemah. Bukankah setiap manusia memiliki titik dimana orientasinya hilang?. Bukankah setiap manusia memiliki titik dimana Ia lebih baik diam dan bertanya, kenapa dan bagaimana aku kini?. Tuhanku yang diajarkan lewat guruku memiliki banyak sifat yang mewujudkan kekuasaannya, kehendaknya dan maha besarnya. Jika manusia sepertiku menjadi tidak berdaya karena sebuah kondisi yang tidak diinginkan, apakah Aku harus tetap berdiri secara tegak?, dapatkah Aku berlindung untuk bersimpuh sebentar dan berkata bahwa aku ingin Tuhan tetap menjadi pengayomku dan ...

Karya

Begitu relatifnya manusia, sampai-sampai Ia mampu berubah dalam waktu yang singkat. Bukan semata pertimbangannya yang cepat berubah, tetapi Ia mampu selalu menjadi sosok lain yang muncul dalam sekejap mata. kalau teori relatifitas dipegang karena kedinamisannya maka relatifnya manusia adalah kedinamisannya akal. Bukan kemunafikan, tetapi relatifitas. Menjadi sebuah karya yang baik bagi manusia saat Ia mampu mengelola akalnya dengan baik, menyesuaikannya dengan kondisi yang dilakukan oleh budi (fisik) sehingga kesesuaian inilah yang disebut karya. 

Karena Kita Wanita

Karena wanita harus tetap terhormat Bukan menjadi lemah karena rayuan, bukan menjadi naif karena harapan, bukan menjadi tersingkirkan karena kesendirian. Kita wanita harus terhormat Bukan yang mau dijak kesana sini berboncengan mesra, bukan yang mau tersenyum melihat pesan romantis rayuan gombal, bukan yang mau berdandan necis untuk lelaki asing yang hanya mampu menyentuh dan memandang semaunya,  Karena wanita harus tetap terhormat Menjadi pionir pendidikan ilmu da akhlaq un tuk anak2nya, menjadi tiang rumah tangga, menjadi penjaga kehormatan keluarganya, menjadi agen pencerdas penerus peradaban, menjadi bidadari surga, menjadi manusia mulia, perhiasan yang paling indah. Karena kita wanita harus tetap terhormat (Magelang, 11 Juni 2016)  

Yuk Pacaran....... !!!

Gambar
Yuk kita jadian terus pacaran deh..... Bahagianya jika bisa bersama dengan mengatasnamakan cinta, suka, serius dll. Yuk kita pacaran,   Agar aku dan kamu saling mengenal, kamu tahu aku dan aku tahu tentang kamu Yuk kita pacaran, agar kita bisa saling memperhatikan, sama-sama menjadi pribadi yang lebih baik. Kamu mengingatkanku untuk sholat dan ngaji. Yuk kita pacaran.   Aku serius sama kamu kok, aku pingin stelah pacaran ini kalau aku sudah siap aku nikahin kamu deh.   Kawan-kawan.....!! Sekarang jaman nya pacaran, dengan sejuta alasan dari yang menjadi motivasi biar blajar rajin sampai yang motivasi Ibadah rajin.   Sekarang jika pacaran waktu yang digunaan untuk mikir in pelajaran sama mikirin pacar banyak mikirin siapa?, alasan ibadah, waktu untuk mikirka Tuhan sma mikirin pacar banyak mikirin siapa?. Yuk pacaran.... Agar bisa main bareng, bisa berdua. Aku bisa pegang tangan kamu, beli rambut kamu, duduk berdua dengan cinta.   Kawan...
Pernahkah kita saling bertanya kenapa setiap orang ingin dirinya diketahui dan dikena orang lain?. Ada banyak jawaban yang saling bertukar disana, ada yang hanya karena ingin menyalurkan hobi ataupun hanya ingin sekedar share apa yang dilakukannya dalam keseharian. Ah, kiranya itu penting tidak sih jika kita terus menshare apa yang kita akan lakukan atau sedang kita lakukan atau bahkan apa yang telah kita lakukan. Hanya beberapa saat saja memikirkan apa yang dilakukan orang dan apa yang dipikirkan orang. Banyak yang menjadikan media sosial sebagai tempat curhatan dan ada juga yang menjadikannya sebagai tempat untuk mengungkapkan doa. Ah, aku malah berpikir apakah Tuhan apakah akan membaca Medsos jika kita mengetik doa disana, hehe.

Manusia, selalu ada cerita tentangnya

Aku hanya melihat bahwa banyak orang disekitar yang memiliki latar belakang yang sangat beragam. Dari banyak cerita dari banyak asal mereka sehingga banyak yang bisa diambil baik pelajarani sisi baik untuk kita tiru ataupun pelajaran sisi buruk sebagai langkah antisipasi dan bisa jadi hal itu adalah "keniscayaan". Dalam sebuah masa, ya... kembali kesana lagi, yakni manusia dalam segala sifatnya dan bawaannya tentu saja memiliki latar belakang yang masih sangat realistis bagi hidupnya dimasa lalu. Sudahlah, masa lalu adalah pembelajaran, sebagaimana sudah dilakukan dan sudah terjadi.

Satu Wajah

Satu Wajah, Beribu Cerita Kesenian tradisional itu menjadi satu moment dimana aku harus mengingat saat masih duduk disekolah dasar. Melihat orang yang “kerasukan” dalam kesenian tradisional adalah keniscayaan karena disitulah orang beranggapan bahwa itu “seni”nya. Kebetulan malam ini adalah malam Senin, bukan malam Minggu dimana malamnya para pencinta. Burung malam itu begitu akrab dalam pendengaran yang sudah biasa Aku dengar, dan disana aku merasa bahwa aku benar-benar sendiri. Segala hal yang terjadi aku kisahkan dalam romantisme malam yang tidak lelah menjadi tempat dimana aku keluhkan segala sesuatunya kepadanya dan penciptanya. Aku tidak pandai memanjatkan harapanku dengan bahasa-bahasa orang timur tengah (Arab), tetapi aku lebih suka melakukan pendekatan dengan bahasaku sendiri. Keyboard ini hanya sebagai sebagian kecil perantara yang ada untukku menambatkan segalanya. Dan aku tulis kisah ini dengan mengulik beberapa memori manis yang sudah sedikit terkubur oleh folder...